GMF jajaki perawatan 20 pesawat Southern Air

PT Garuda Maintenance Facility (GMF) Aero Asia menjajaki kontrak perawatan 20 pesawat Boeing 747-200 milik perusahaan penerbangan kargo asal AS, Southern Air senilai US$20 juta

Direktur Utama PT GMF Aero Asia Richard Budihadianto mengatakan saat ini ada empat pesawat kargo Boeing 747-200 milik Southern Air yang perawatan dan perbaikannya dilakukan di GMF.

“Sebanyak tiga pesawat sudah selesai, sedangkan perawatan pesawat keempat di GMF Aero Asia diperkirakan rampung pada 7 September. Total nilai order dari empat pesawat dari Southern Air ini mencapai US$4 juta,” ujarnya kepada Bisnis di sela-sela peluncuran kembali Citilink di Bandara Juanda, Surabaya, Senin.

Richard menjelaskan untuk jangka panjang GMF Aero Asia dan Southern Air akan menjajaki rencana perawatan sekitar 20 unit pesawat kargo jenis Boeing 747 milik perusahaan asal AS itu.

“Untuk kerja sama long term [jangka panjang], kami akan membicarakan dengan Southern Air soal rencana perawatan 20 pesawat kargo milik perusahaan itu,” katanya.

Richard tidak memerinci nilai perawatan untuk setiap pesawat, tetapi dari empat pesawat Southern Air yang dikerjakan GMF rata-rata mencapai US$1 juta per unit.

R. Andi Fajarprabawa, Project Manager Hanggar I GMF, mengatakan keberhasilan menyelesaikan perawatan pesawat milik Southern Air membuktikan kesuksesan GMF merawat pesawat kargo milik maskapai yang terdaftar pada Federal Aviation Administration (FAA). “Hasil perawatan ini sesuai dengan permintaan Southern Air,” katanya.

Menurut dia, selain menjalani perawatan C-Check sejak 8 Mei lalu, pihak Southern meminta pekerjaan tambahan, yakni penggantian landing gear dan perbaikan beberapa panel sayap.

Todd Clement, konsultan Southern Air, mengakui kinerja GMF itu sesuai dengan keinginan maskapainya. “Hasilnya sangat fantastis seperti yang kami harapkan,” kata Clement.

Dengan harga yang kompetitif, GMF dinilai dapat menghasilkan perawatan yang setara dengan perusahaan perawatan pesawat internasional lain.

Target pendapatan

GMF Aero Asia sendiri menargetkan pendapatan meningkat 23% menjadi US$160 juta pada tahun ini, seiring dengan meningkatnya kepercayaan maskapai asing untuk merawat pesawat di fasilitas tersebut.

Richard mengatakan maskapai penerbangan asing selama ini mengakui kemampuan dan reputasi GMF dalam perawatan dan perbaikan pesawat terbang.

“Tidak heran jika porsi pendapatan dari usaha perawatan pesawat maskapai asing mencapai 80%, sedangkan pendapatan dari domestik lebih kecil hanya 20%,” ujarnya.

Pada tahun lalu, ungkap Richard, GMF meraih pendapatan US$130 juta. Pesawat yang ditangani GMF sebagian besar bertipe badan lebar, seperti Boeing 747 milik maskapai penerbangan dari AS, Eropa, Asia, dan Timur Tengah.

Kepercayaan perusahaan penerbangan internasional semakin tinggi menyusul keberhasilan GMF lulus dari audit Federal Aviation Administration (FAA), otoritas penerbangan sipil AS.

“Kesimpulan GMF lulus dari audit FAA berdasarkan hasil audit yang berlangsung pada 19-21 Agustus lalu,” tutur Dwi Prasmono Adji, Corporate Communication GMF.

Audit terhadap GMF ini meliputi sistem mutu dan prosedur, kualifikasi personel, program pelatihan, dan fasilitas perawatan terbang

Add comment 21 Desember, 2008

ADAM AIR

Ternyata setelah berkiprah beberapa tahun berkiprah di dunia penerbangan, akhirnya tahun ini Adam Air turun landasan.

Karena banyak pesawatnya yang di grounded

1 comment 17 Maret, 2008

Lensa Kontak SALAH PILIH MALAH ALERGI

Lensa Kontak
(Wednesday, 26 September 2007) – Written by Administrator – Last Updated (Tuesday, 23 October 2007)
Lensa Kontak SALAH PILIH MALAH ALERGI
Lensa kontak banyak jadi pilihan, baik untuk alasan kosmetis maupun medis. Ada rambu-rambu yang perlu diketahui sebelum memutuskan menggunakan lensa kontak yang tepat. Apa sajakah itu?
Banyak orang memutuskan memilih lensa kontak dibandingkan kaca mata untuk mempertajam penglihatan yang terganggu karena mata minus atau plus.
Secara harafiah, menurut Dr. Sri Rahayu, SpM, FIACLE. dari Jakarta Eye Center, lensa kontak merupakan alat bantu untuk mengoreksi kelainan refraksi (pembiasan atau penyimpangan arah), atau kelainan penglihatan yang disebabkan adanya ketidaksesuaian optik (sistem pencahayaan) pada mata.
Pada mata normal, urai Sri, tugas mata membiaskan atau menangkap sinar oleh retina, sehingga sinar yang sejajar harus jatuh tepat pada retina. “Jika ada kelainan refraksi, bayangan objek yang dilihatnya tidak akan jatuh tepat pada retina, melainkan di belakang atau di depan retina. Misalnya, jika objek yang dilihat berupa titik, yang terlihat oleh mata
yang mengalami kelainan penglihatan akan menjadi berupa garis.”
Oleh karena itu, Sri menegaskan, jika ada kelaianan refraksi pada mata, harus dikoreksi oleh sistem optik. “Sinar yang tadinya ditangkap terfokus tidak di retina, menjadi tepat di retina lagi. Koreksi ini bisa dengan penggunaan kaca mata atau lensa kontak yang ditempelkan atau kontak langsung pada kornea mata.”

Lensa kontak punya kelebihan dibandingkan kacamata. Antara lain, bebas gangguan embun seperti yang terjadi di kaca mata ketika hujan. Secara kosmetis pun, meski tidak seluruhnya, lensa kontak lebih bagus daripada kacamata. Apalagi bagi mereka yang memiliki mata dengan ukuran minus atau plus yang tinggi.

BEDA BAHAN
Selain kelebihan kosmetis, lensa kontak juga akan mengoreksi tajam penglihatan lebih baik dibanding kaca mata. Terutama bagi yang mengalami kelainan-kelainan refraksi yang tinggi. “Pada mata silinder yang tinggi, lensa kontak juga mengoreksi lebih baik ketimbang kaca mata. Lensa kontak juga memiliki kelebihan lain karena dapat dipakai untuk tujuan tertentu. Misalnya, bagi jenis pekerjaan yang tidak memungkinan pakai kacamata, seperti artis atau olah ragawan,” kata Sri.

Lensa kontak juga bisa dipakai untuk tujuan terapi. Jenis terapetic lens yang berbahan lunak ini bisa mengantarkan obatobatan tertentu dalam waktu lama. Pasien sakit mata yang memerlukan obat tetes mata terus-menerus, misalnya, obatnya diteteskan ke lensa kontak dalam dosis tinggi agar dapat dirilis pelan-pelan ke mata, sehingga tak perlu repot lagi meneteskan obat terus-menerus.

Berdasarkan bahannya, lensa kontak dibagi dalam dua kategori. Pertama, soft lens (lensa kontak lunak) yang terbuat dari hidrogel. Kedua, semi hard lens atau rigid lens, yaitu lensa kontak kaku yang terbuat dari bahan silikon akrilat (akrilik). Saat ini, sudah ada lensa kontak rigid gas permeable (RGP) atau lensa kontak kaku yang tembus gas (oksigen dan karbon dioksida). RGP adalah hasil perkembangan lensa kontak keras. Lalu, berkembanglah soft lens (lensa lunak) yang bisa dilalui oksigen melalui kandungan airnya. Jumlah kadar air pada soft lens berpengaruh pada daya hantar oksigennya. Daya hantar oksigen soft lens tak sebanyak rigid lens, sehingga banyak terjadi komplikasi berupa alergi.
Kemudian, ditemukanlah bahan lensa kontak kaku yang tembus oksigen, yaitu silikon akrilat (RGP).

Dari segi harga, RGP memang relatif lebih mahal dari soft lens yang juga lebih mudah dibeli tanpa perlu memesan lama.
Namun, “Dibutuhkan berapa soft lens daily disposable dalam pemakaian setahun? Lebih boros, bukan? Sementara RGP memang mahal, tetapi replacement-nya lebih lama.” Keunggulan lain RGP, dapat menghambat pertambahan minus mata yang tinggi, khususnya yang sejak kanak-kanak sudah minus. Menurut penelitian, kata Sri, ternyata pertambahan minus pada pemakaian RGP hanya setengahnya dari pemakai kacamata atau softlens.

Sementara kelemahannya, dengan RGP mata harus beradaptasi jauh lebih lama. Dengan soft lens, pengguna bisa langsung merasa nyaman dan memakainya seharian pada pemakaian pertama. Tak heran jika soft lens lebih banyak dipilih.

Akan halnya rigid lens, karena bahannya kaku, pemakainya butuh adaptasi sekitar 1-2 minggu, bertahap, dan tak bisa langsung dipakai seharian. Di hari pertama, misalnya, hanya dipakai dua jam, kemudian meningkat di hari berikut, dan baru di hari ke tujuh baru bisa dipakai seharian. “Alasan inilah yang membuat orang jarang memilih RGP. Meski, di balik
ketidaknyamanan ini, justru yang tak terbeli adalah kesehatan matanya,” saran Sri.

REAKSI ALERGI

Komplikasi pemakaian soft lens yang terbanyak adalah reaksi alergi. Pada pemakai soft lens, alergi bisa disebabkan bahan atau komponen cairan perawatannya. Soft lens harus dirawat dengan cairan karena ada kalanya ia dilepas dari mata. Sebaiknya, gunakan soft lens harian dan tak dipakai waktu tidur. “Jadi, malam hari harus dilepas, lalu dirawat dengan dicuci, dibilas, dan direndam. Namun, cairan-cairan perawatan lensa kontak ini terkadang mengandung bahan deterjen yang bisa menyebabkan alergi juga.”

Selain alergi, soft lens juga bisa mengakibatkan kekurangan oksigen karena daya hantar oksigen soft lens masih kurang dibandingkan RGP. Menurut Sri, lensa kontak yang memiliki kadar air tinggi, daya hantar oksigennya lebih bagus dibanding yang berkadar air rendah. Tetapi kontak lensa dengan kadar air tinggi juga punya kelemahan. Semakin tinggi kadar airnya, akan lebih menimbun (deposit) lemak, protein, dan kotoran yang berasal dari air mata yang menempel pada lensa kontak, sehingga tak bisa lagi hanya dibersihkan dengan cairan perawatan. Timbunan deposit ini pun bisa menimbulkan iritasi yang kerap terjadi, pemakai tak menyadari matanya sakit dan bengkak pada kornea akibat kekurangan oksigen yang terjadi terus-menerus dan akut. Seorang dokter ahli bisa melihat adanya pembuluh-pembuluh darah yang tumbuh pada kornea. “Seharusnya, kornea jernih, transparan, dan tak ditumbuhi pembuluh-pembuluh darah.
Sifat kornea harus mengantarkan sinar atau sebagai media refraktif. Jika kekurangan oksigen, pembuluh darahnya bisa masuk dan tumbuh ke dalam kornea.”

Lensa kontak memiliki base curve atau kelengkungan bagian belakang yang harus sesuai dengan kornea. Jika pemakaian lensa kontak tanpa diukur kelengkungan korneanya, terkadang bisa terjadi fitting yang terlalu ketat atau longgar. Keduanya akan mengakibatkan rasa tidak nyaman, mata kekurangan oksigen. Jika terlalu ketat, lensa kontak seolah mencengkeram kornea, sehingga tak bisa terjadi pertukaran air mata. Akibatnya, kornea kekurangan oksigen.
Sebaliknya, jika terlalu longgar, kedudukan lensa kontak menjadi tidak stabil dan mengakibatkan tajam penglihatannya berubah-ubah.

Penggunaan semi hard lens (RGP ) dapat meminimalkan kemungkinan alergi dan kekurangan oksigen. Apalagi sekarang sudah ada semi hard lens yang bahannya aman digunakan secara kontinyu selama 30 hari berturut-turut tanpa perlu dilepas. Lensa kontak ini sangat besar daya tembus oksigennya, sehingga aman dipakai ketika tidur tanpa mengakibatkan kekurangan oksigen.

JENIS LENSA KONTAK

Dari segi repleacement-nya, lensa kontak dibagi ke dalam beberapa jenis, sesuai rekomendasi dari pabrikannya. 1.
Disposable, alias bisa dibuang usai dipakai. Ada yang harian, mingguan, dua mingguan, ataupun bulanan. 2. Frequent replacement. Harus diganti setiap 3-6 bulan. Pada kemasannya produsen harus mencantumkan sampai berapa lama lensa kontak bisa dipakai. 3. Permanen. Dapat dipakai selama setahun atau lebih. Lensa RGP termasuk yang permanen dan bisa dipakai lebih dari dua tahun. 4. Dari segi pemakaiannya, lensa kontak dibagi dua: – Daily wear (pemakaian siang hari dan tak bisa dipakai tidur). Maksimal pemakaiannya tak hanya tergantung pada oksigenasinya saja, tetapi juga dari mata penggunanya. – Overnight wear (bisa dipakai saat tidur). Untuk bisa dipakai tidur, daya hantar oksigennya tentu lebih banyak.

TIPS

  1. Periksakan ke dokter mata. Ada beberapa kondisi (kontra indikasi) yang membuat seseorang sama sekali tak boleh memakai lensa kontak. Misalnya, alergi atau infeksi yang masih aktif atau reflek mengedip terganggu (penderita belspalsi atau kelumpuhan pada syaraf wajah), sehingga mata cenderung kering.
  2. Lensa kontak yang cocok. Dokter akan menentukan lensa kontak yang cocok, tergantung kondisi mata, air mata, dan tujuannya. Jika memilih soft lens, biasanya dokter menyarankan dari jenis daily disposable.
  3. Periksa mata dan lensa 6 bulan sekali. Jika ada tanda-tanda masalah, disarankan untuk mengubah lensa atau mengatur ulang jadwal pemakaian lensa kontak.
  4. Jangan sembarangan membeli. Jauh lebih baik membeli lensa kontak disertai resep dokter agar fitting lebih pas dan tak mengakibatkan komplikasi.
  5. Minus terbatas. Dari produsennya, lensa kontak RGP biasanya dibatasi hingga minus 25,sementara soft lens hanya tersedia sampai minus 10.
  6. Komplikasi akibat soft lens berwarna. Bagi mata sensitif, warna pada soft lens bisa menyebabkan iritasi. Secara umum, soft lens berwarna hanya bagus dipakai bagi mata normal untuk menunjang penampilan. “Penggunanya harus mentaati kaidah-kaidah pemakaian lensa kontak dan memeriksakan mata secara berkala. Jika tak nyaman, soft lens harus segera dilepas.”
  7. Waspadai mata merah. Termasuk mata gatal, mata berair, rasa tak nyaman, mata sakit, dan tajam penglihatan menurun, segeralah lepas lensa kontak dan periksakan kedokter mata.
  8. Bersihkan. Cara membersihkan RGP sama dengan soft lens, hanya cairannya saja yang berbeda. Saat ini banyak cairan all in one, sekaligus pencuci, perendam, desinfektan, hingga lubrikan. Untuk mata sensitif dapat diganti dengan pembilas tanpa bahan pengawet.


Sumber Tabloid Nova

2 comments 16 Maret, 2008

Lensa RGP

LENSA KONTAK RIGID GAS PERMEABLE

(RGP)

HardLens/RGP berbentuk sama persis seperti Softlens, tetapi yang membedakannya adalah Hardlens terbuat dengan bahan yang keras. RGP (Rigid Gas Permable)

Fungsi / kegunaan :

  • Sirkulasi Oksigen ke Kornea lebih baik.
  • Lebih tahan lama (penggunaannya)

Untuk mata minus (terutama minus tinggi) dapat menekan kornea agar tidak lonjong

PENGENALAN

Lensa RGP adalah suatu jenis lensa kontak rigid (kaku) yang digunakan untuk mengoreksi tajam penglihatan selain soft lens. RGP dapat mengoreksi plus, minus dan cylinder bahkan memberikan penglihatan yang jauh lebih baik dibanding soft lens. RGP yang dikenal dengan “semihard contact lenses” telah berkembang dibanyak negara dan banyak direkomendasikan para dokter mata karena memiliki banyak kelebihan dibanding soft lens dan dapat meminimalkan komplikasi yang sering ditimbulkan oleh soft lens.

BAHAN RGP

Ciri khas lensa RGP adalah permeabilitas oksigen. Permeabilitas oksigen adalah kemampuan bahan lensa untuk meneruskan oksigen. Permeable berarti dapat dilewati. Permeabilitas oksigen diukur dengan DK.

D : Difussion (penyebaran)

K : Solubility (Koefisien / daya larut)

Transmisibilitas oksigen adalah banyaknya oksigen yang meliwati tebal bahan lensa. Transmisibilitas oksigen ditunjukkan dengan DK/L. L adalah total tebal lensa. Semakin tebal suatu lensa semakin rendah nilai suatu transmisibilitas oksigen.

Kebanyakan bahan lensa RGP saat ini adalah gabungan dari silicon dan fluorine yang membentuk grup bahan RGP yaitu Fluorosilicone Acrylates (FSA). Silicone dan fluorine menambah permeabilitas bahan lensa. Fluorine menjadikan bahan lensa mudah dilewati melalui daya larutnya. Daya larut adalah dimana Fluorine menyerap oksigen seperti spons. Ciri khas lain dari silicone dan fluorine adalah hydrophobic (tidak menyerap air).

KRITERIA PEMAKAI RGP

Hampir semua pasien dapat menjadi pemakai lensa RGP. Berbeda dengan soft lens yang memiliki Kriteria khusus yang harus dilewati, RGP tidak memiliki banyak pantangan. Salah satu kriteria khusus pada pemakaian soft lens adalah jumlah air mata. Pada pemakaian soft lens, jumlah air mata harus cukup, sebab soft lens membutuhkan air untuk mempertahankan kebasahan, tekstur bahan dan mencegah dehidrasi. Jika pada kondisi mata yang kering dipasangkan soft lens, maka akan mengganggu komposisi air mata, sehingga dapat menimbulkan banyak komplikasi diantaranya, hipoksia (kekurangan oksigen) dan iritasi.

RGP tidak menyerap air tetapi hanya melewati permukaan lapisan air mata, sehingga RGP dapat dipakai dalam kondisi mata dengan jumlah air mata yang sedikit.

Lensa RGP hanya tidak diindikasikan pada pasien dengan riwayat alergi dan tekanan bola mata yang tinggi.

PEMASANGAN LENSA RGP

Sebelum memakai lensa RGP, ada beberapa pemeriksaan yang harus dilakukan oleh para praktisi, antara lain :

- pemeriksaan tajam penglihatan

- pemeriksaan ukuran mata (plus, minus, dan cylinder)

- pengukuran kelengkungan kornea

- pengukuran tekanan bola mata

- pemeriksaan kesehatan umum bola mata

- pemeriksaan jumlah air mata

- pemakaian lensa uji coba (trial lens)

KELEBIHAN LENSA RGP

Lensa RGP merupakan pilihan utama karena memberikan penglihatan sempurna, lebih stabil, kenyamanan jangka panjang dan daya tahan yang lebih baik dibandingkan lensa kontak lunak (soft lens). Dalam beberapa kategori lensa RGP memang lebih baik, tetapi dari segi kenyamanan jangka pendek soft lens lebih nyaman. Masa adaptasi RGP membutuhkan waktu lebih lama dibanding soft lens yang hanya membutuhkan waktu beberapa hari untuk adaptasi.

Lensa RGP tidak mudah kotor karena memiliki kadar air kurang dari 5%. Berbeda dengan soft lens yang memiliki kadar air lebih besar yaitu, sekitar 30% hingga 70%, sebab kotoran masuk ke dalam bahan lensa melalui air. Semakin tinggi kadar air, semakin cepat lensa tersebut menjadi kotor. Satu lensa RGP yang dirawat dengan baik dapat bertahan hingga lebih dari 10 tahun.

Lensa RGP memiliki diameter yang lebih kecil dibandingkan diameter kornea kita, sehingga proses pemasangan dan pelepasan lebih mudah. Selain itu diameter yang kecil memungkinkan pertukaran air mata dan oksigen yang berlangsung secara berkesinambungan.

Disamping itu, RGP memiliki transmisi oksigen yang lebih besar dibanding soft lens, sehingga komplikasi seperti : kekurangan oksigen (hipoksia), penyebaran pembuluh darah baru, iritasi, kekeruhan pada kornea dan lain-lain dapat diminimalkan.

Keuntungan lain dari lensa RGP adalah dapat mengontrol myopia. Penelitian yang dilakukan menunjukkan penurunan myopia progressive (minus yang terus bertambah) pada anak. Lensa RGP menurunkan myopia progressive sekitar 1.00 – 3.00 D. Beberapa kasus amblyopia (lazy eye’s / mata malas) dapat diperbaiki dengan lensa RGP.

Add comment 16 Maret, 2008


Arsip

Tulisan Terakhir